Solok – Jenazah Korban Ponpes Suasana duka masih menyelimuti Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Setelah berhari-hari penuh harap dan doa, keluarga korban akhirnya mendapatkan kepastian. Jenazah korban yang tertimbun dalam peristiwa ambruknya bangunan pondok, kini telah berhasil diidentifikasi oleh tim forensik.
Namun rasa lega itu datang bersamaan dengan luka yang tak mudah hilang.
Duka yang Berpintu Pasti: Identitas Terungkap, Luka Terbuka

Baca Juga : Wisata Danau di Solok Meningkat, Homestay Tumbuh Pesat
Korban diketahui adalah seorang santri putra yang selama ini dikenal tekun, ramah, dan selalu aktif dalam kegiatan pondok. Tim DVI (Disaster Victim Identification) bekerja tanpa lelah sejak insiden terjadi. Setelah melalui proses identifikasi yang cermat, mencocokkan data medis, sidik jari, hingga ciri-ciri pakaian terakhir, akhirnya jenazah bisa dipastikan identitasnya.
Pihak keluarga langsung datang ke RS Bhayangkara untuk menerima jenazah, dengan suasana haru dan tangis yang tak bisa ditahan.
Pondok Pesantren: Tempat Menuntut Ilmu, Bukan Mengantar Maut
Tragedi ini terjadi saat sebagian santri sedang beristirahat di asrama. Tiba-tiba, sebagian bangunan lantai atas roboh dan menimpa ruangan di bawah. Beberapa santri sempat menyelamatkan diri, namun satu korban tertinggal dan baru ditemukan setelah proses evakuasi panjang.
Pertanyaannya kemudian mengarah pada hal yang lebih mendasar: seberapa aman bangunan lembaga pendidikan kita, khususnya pondok pesantren yang seringkali dibangun secara bertahap dan mandiri tanpa pengawasan ketat?
Pemerintah Turun Tangan, Evaluasi Dimulai
Pemerintah daerah Sidoarjo bersama dinas terkait kini mulai mengevaluasi kondisi fisik seluruh bangunan di lingkungan ponpes tersebut. Tak hanya itu, instruksi juga dikeluarkan agar seluruh pondok pesantren di wilayah Jawa Timur segera melakukan audit bangunan — khususnya bangunan lama atau hasil renovasi mandiri.
“Ini bukan soal menyalahkan siapa, tapi memastikan bahwa kejadian ini adalah yang terakhir,” ujar seorang pejabat Dinas Cipta Karya.
Santri Gugur, Tapi Semangat Tak Patah
Pimpinan Ponpes Al Khoziny, dalam keterangannya, menyatakan rasa duka yang mendalam atas kejadian ini. Mereka berjanji akan meningkatkan standar keamanan bangunan dan memperbaiki sistem pengawasan pembangunan di lingkungan pesantren.
“Ananda bukan hanya santri kami, tapi bagian dari keluarga besar Al Khoziny. Kepergiannya menjadi pengingat agar kami tak abai terhadap keselamatan para penuntut ilmu,” ujarnya sambil menahan haru.
Penutup: Sebuah Kematian yang Harus Menghidupkan Kesadaran
Jenazah mungkin sudah kembali ke pangkuan keluarga. Tapi tugas kita belum selesai. Setiap nyawa yang hilang karena kelalaian adalah tamparan keras bagi semua yang bertanggung jawab.






