Solok – Pulang Berkebun Petani Sebuah peristiwa tragis menimpa seorang petani di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Pada Minggu pagi (25/11), warga setempat digegerkan dengan penemuan jasad seorang petani bernama Sani (45), yang tewas mengenaskan setelah dililit oleh ular piton sepanjang 7 meter. Kejadian ini terjadi di sebuah kebun milik korban yang terletak di Desa Lawele, Kecamatan Pasarwajo, sekitar 10 kilometer dari pusat kota.
Menurut keterangan polisi dan saksi mata, peristiwa itu bermula ketika Sani, yang sehari-harinya bekerja sebagai petani sayuran dan buah-buahan, berangkat ke kebunnya untuk memanen hasil tanamannya. Sani diketahui pergi ke kebun sekitar pukul 06.00 WITA. Namun, ketika ia tidak kembali hingga siang hari, keluarganya mulai khawatir dan mencari keberadaannya.
Penemuan Jasad di Kebun
Pencarian yang dilakukan oleh keluarga dan warga setempat akhirnya membuahkan hasil pada sekitar pukul 14.00 WITA, ketika salah satu warga melihat sesuatu yang mencurigakan di sekitar semak-semak di kebun milik Sani. Setelah didekati, ditemukanlah tubuh Sani yang tergeletak di tanah dengan tubuhnya terjerat erat oleh ular piton berukuran sangat besar. Piton tersebut diduga menyerang korban dan melilit tubuhnya hingga tewas.
“Awalnya kami pikir itu hanya ular biasa, tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata itu adalah piton raksasa yang sedang melilit tubuh korban. Saat itu juga warga langsung memberi tahu kami dan kami bergegas datang ke lokasi,” kata Kepala Desa Lawele, Abdul Malik.
Setelah ditemukan, warga berusaha melepaskan tubuh korban dari lilitan ular piton tersebut. Namun, usaha mereka terhambat karena ukuran ular yang sangat besar. Butuh beberapa saat hingga tim gabungan dari warga, pihak kepolisian, dan petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara tiba di lokasi untuk membantu melepaskan korban dari lilitan ular.
Pulang Berkebun Petani Kronologi Serangan Ular Piton
Menurut penuturan warga setempat, ular piton itu diperkirakan telah menyerang Sani saat korban sedang berjalan di sekitar kebunnya. Piton sepanjang 7 meter yang ditemukan itu kemungkinan besar sedang berburu hewan kecil seperti tikus atau burung yang ada di kebun. Namun, karena ukuran piton yang sangat besar dan kekuatan lilitannya yang kuat, ular tersebut kemudian menyerang Sani dan melilit tubuh korban dengan cepat.

Baca Juga : Sopir Diduga Ngantuk Pikap Hantam Innova-Tiang Listrik di Prambanan Klaten
Dari kondisi tubuh korban yang ditemukan, nampaknya ular itu sudah melilit sekitar tubuh korban dari leher hingga pinggang. Itu sebabnya korban tidak bisa bergerak dan tidak bisa bertahan,” jelas petugas medis yang turut mengevakuasi korban.
Setelah ular piton tersebut berhasil dilepaskan, tim medis langsung melakukan pemeriksaan terhadap tubuh korban. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa korban meninggal dunia akibat kekurangan oksigen yang disebabkan oleh lilitan ular yang sangat kuat di bagian leher dan dada.
Tim BKSDA dan Polisi Turun Tangan
Pihak kepolisian dari Polres Buton bersama tim dari BKSDA Sulawesi Tenggara turun tangan untuk mengamankan lokasi kejadian. Tim BKSDA kemudian membawa ular piton tersebut ke tempat yang aman, mengingat ular tersebut dilindungi dan tidak boleh dibunuh sembarangan.
“Ular piton ini adalah spesies yang dilindungi, jadi kami tidak boleh sembarangan membunuhnya.
Sementara itu, polisi mengungkapkan bahwa mereka masih melakukan penyelidikan terkait kejadian tersebut
Ular Piton yang Menggugah Kekhawatiran
Masyarakat di sekitar daerah kebun tempat kejadian diminta untuk lebih berhati-hati, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan atau bekerja di kebun yang berada dekat dengan hutan. Kepala Desa Lawele mengimbau warganya untuk lebih waspada dan berhati-hati dalam beraktivitas di area yang rawan keberadaan hewan liar.
“Kami juga mengimbau agar warga tidak terlalu mendekati ular atau hewan liar lainnya, terutama jika mereka menemukan jejak atau tanda-tanda keberadaan hewan tersebut di sekitar kebun mereka. Kejadian seperti ini harus menjadi pelajaran agar kita lebih berhati-hati,” tambah Abdul Malik.
Duka Mendalam Keluarga
Kehilangan Sani yang merupakan kepala keluarga sangat dirasakan oleh istri dan anak-anaknya. Sani dikenal sebagai sosok yang rajin bekerja keras demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Istrinya, Sri Mulyani, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam atas kejadian tragis ini.
“Saya tidak menyangka suami saya pergi begitu cepat. Kami hanya berpisah sebentar karena ia pergi ke kebun, tapi takdir berkata lain. Kami sangat kehilangan,” ujar Sri dengan mata yang berkaca-kaca.
Sani meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil.
Penutupan
Kematian tragis Sani menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar, terutama ketika beraktivitas di alam terbuka.
Kepergian Sani meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan masyarakat di Desa Lawele.






