Solok – Polemik Panas PBNU yang terjadi dalam tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhirnya mencapai titik klimaks dengan keputusan mengejutkan: Gus Yahya Cholil Staquf dicopot dari kursi Ketua Umum (Ketum) PBNU setelah masa kepemimpinannya hanya berlangsung kurang dari tiga tahun.
Keputusan ini datang setelah serangkaian ketegangan internal yang melibatkan sebagian besar pengurus NU, yang mengkritik arah kebijakan dan kepemimpinan Gus Yahya.
Proses pergantian ini juga diwarnai dengan protes keras dari sejumlah kelompok di tubuh NU yang menilai keputusan ini sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap visi dan strategi Gus Yahya.
Penyebab Polemik
Polemik internal PBNU mulai mencuat sejak awal 2025 ketika beberapa pihak di dalam organisasi terbesar Islam di Indonesia ini menilai kepemimpinan Gus Yahya mulai kehilangan arah dan tidak sejalan dengan nilai-nilai dasar Nahdlatul Ulama.
Banyak di antara pengurus dan kiai senior yang merasa bahwa kebijakan Gus Yahya, terutama dalam hal pendekatan terhadap masalah keagamaan dan politik, telah terlalu mengarah pada pemikiran yang dianggap kurang tradisional dan lebih pragmatis.
Puncak dari ketegangan ini terjadi pada rapat pleno PBNU pada 28 November 2025, di mana sejumlah pengurus menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap kepemimpinan Gus Yahya dalam forum resmi
. Mereka menilai bahwa Gus Yahya terlalu banyak mengambil kebijakan yang kontroversial dan terkesan mengabaikan aspirasi kiai-kiai NU yang lebih tua.
Baca Juga : PLN Salurkan Bantuan Cepat untuk Korban Banjir Bandang di Nagari Saniang Baka, Solok
Gus Yahya Menanggapi
“Saya menerima keputusan ini dengan lapang dada. Saya percaya bahwa organisasi sebesar PBNU memerlukan kepemimpinan yang bisa mengakomodasi berbagai pandangan dan kepentingan. Tentu, ada perbedaan dalam cara pandang kami tentang bagaimana NU harus bergerak ke depan, namun saya tetap menghormati keputusan ini,” ujar Gus Yahya dengan nada yang tenang.
Kritik Terhadap Kepemimpinan Gus Yahya
Kepemimpinan Gus Yahya memang menjadi sorotan sejak ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar 2021 lalu. Sebagian kalangan menilai bahwa Gus Yahya membawa arah organisasi yang lebih moderat, bahkan lebih liberal dalam beberapa hal.
Penerimaan terhadap Pencopotan
Keputusan pemecatan Gus Yahya mendapat respon yang beragam dari kalangan masyarakat dan tokoh-tokoh NU. Sebagian besar kiai senior dan pengurus PBNU yang lebih konservatif menyambut baik keputusan ini.
“Ini adalah langkah yang tepat.
Keputusan ini adalah bukti bahwa PBNU tetap mengedepankan musyawarah dan mufakat dalam menyelesaikan masalah,” ujar KH. Maimun Zubair, salah seorang kiai senior dari Jawa Tengah.
Namun, tidak sedikit juga yang menyesalkan pencopotan Gus Yahya. Mereka yang mendukungnya menilai bahwa NU harus membuka diri terhadap perubahan zaman, dan tidak terjebak pada tradisi yang kaku.
Dampak Terhadap NU dan Politik Nasional
Polemik ini tidak hanya berdampak pada PBNU, tetapi juga mempengaruhi hubungan antara NU dengan kekuatan politik di Indonesia. Selama kepemimpinan Gus Yahya, PBNU memiliki hubungan yang cukup dekat dengan sejumlah tokoh politik, terutama yang memiliki pandangan moderat.
Pencarian Pengganti Gus Yahya
Sejumlah nama mulai mencuat, termasuk KH. Said Aqil Siradj, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode.
Penutup






