Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Larangan Perjalanan AS Buat Warga Afghanistan Hidup dalam Ketidakpastian

Shoppe Mall

iNews Solok- Larangan Perjalanan AS Buat Afghanistan untuk memulai hidup baru di Amerika Serikat seketika hancur berkeping-keping ketika Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengumumkan kebijakan kontroversial berupa larangan perjalanan bagi warga dari 12 negara, termasuk Afghanistan. Bagi banyak orang di negeri yang dilanda perang itu, keputusan ini bukan hanya mengejutkan, tapi juga terasa seperti pengkhianatan dari negara yang dulu mereka bantu dengan risiko nyawa.

Selama lebih dari dua dekade, banyak warga Afghanistan bahu-membahu dengan pasukan AS dalam perang melawan terorisme. Mereka menjadi penerjemah, pemandu, hingga staf pendukung dalam operasi-operasi militer yang menegangkan. Sebagai balasan atas bantuan itu, mereka dijanjikan perlindungan—dan banyak yang diberi kesempatan untuk mengajukan visa khusus agar bisa hidup aman di Negeri Paman Sam.

Shoppe Mall

Namun kini, banyak dari mereka merasa ditinggalkan.

Jalur yang Sulit, Penuh Ketidakpastian

Sebenarnya, Amerika Serikat menyediakan beberapa jalur legal bagi warga Afghanistan untuk bisa masuk, termasuk melalui program Visa Imigran Khusus (SIV) bagi mereka yang bekerja dengan pemerintah AS atau militer setidaknya selama satu tahun. Namun kebijakan imigrasi yang semakin diperketat di era Trump membuat jalur-jalur ini tersendat, bahkan nyaris tertutup.

Kantor-kantor pengajuan visa ditutup. Proses administrasi terhenti. Program pemukiman ulang hampir dibubarkan sepenuhnya. Ribuan warga Afghanistan yang telah memenuhi syarat pun harus menunggu tanpa kejelasan. Mereka yang sudah memiliki Status Perlindungan Sementara (TPS) juga berada dalam ketakutan, karena Trump secara terbuka mengumumkan rencana untuk mengakhiri program itu.

“Semua orang di komunitas kami bingung dan takut. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata seorang warga Afghanistan yang kini tinggal di AS, setelah bertugas bersama pasukan Amerika di wilayah konflik selama bertahun-tahun.

Antara Keluarga dan Perbatasan

Kisah pilu datang dari seorang mantan pekerja lapangan untuk militer AS. Setelah Taliban merebut kekuasaan kembali pada 2021, ia berusaha mati-matian membawa keluarganya keluar dari Afghanistan. Namun, salah satu adik laki-lakinya tidak memenuhi kriteria SIV karena secara teknis tak bekerja langsung di bawah otoritas pemerintah AS.

“Saya tidak tahu apakah larangan perjalanan ini akan berdampak pada saudara saya. Tidak ada penjelasan yang jelas. Saya bahkan tak tahu apa arti larangan ini sebenarnya,” ujarnya dengan suara berat.

Larangan Perjalanan AS Buat Warga Afghanistan Hidup dalam Ketidakpastian
Larangan Perjalanan AS Buat Warga Afghanistan Hidup dalam Ketidakpastian

Baca Juga : Perusahaan Listrik Negara di Solok Dukung Usaha Pertanian

Kisah lain datang dari seorang penerima beasiswa Fulbright yang datang ke AS sebelum situasi di Afghanistan semakin kacau. Ia kini sedang mengajukan permohonan green card, berharap agar istri dan anak perempuannya bisa segera menyusul. Namun prosesnya lambat, dan larangan perjalanan membuat masa depan keluarganya semakin tak pasti.

“Saya seharusnya pulang pada 15 Agustus 2021. Tapi bayi perempuan saya lahir pada 19 Agustus. Saya belum pernah melihatnya secara langsung sejak saat itu,” kata pria itu, dengan mata berkaca-kaca. “Saya hanya ingin memeluk anak saya, itu saja.”

Pengecualian yang Tidak Menjamin Cakupan

Pemerintahan Trump menyatakan bahwa pemegang Visa Imigran Khusus dikecualikan dari larangan perjalanan tersebut. Namun menurut para pakar dan pejabat sebelumnya, pengecualian ini tak seindah yang terdengar.

Seorang mantan pejabat di Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa pemerintah saat itu tidak menyiapkan infrastruktur pendukung yang memadai untuk memastikan penerima SIV bisa benar-benar keluar dari Afghanistan dengan selamat dan mulai hidup baru di AS.

“Kami punya pengecualian di atas kertas, tapi secara operasional mereka membubarkan Kantor Koordinator Upaya Relokasi Afghanistan. Ini bukan hanya soal izin masuk—ini soal bagaimana kita membantu mereka tiba dan bertahan,” ujarnya kepada CNN.

Pejabat tersebut menambahkan bahwa kantor itu akan resmi ditutup pada 1 Juli, dan fungsinya dipindahkan ke unit lain yang dianggap kurang siap menangani kompleksitas pemindahan ribuan pengungsi.

Selain itu, program lain bernama Enduring Welcome, yang membantu pelamar SIV untuk mencari tempat aman di negara ketiga, juga dikabarkan akan dihentikan. Hal ini membuat banyak orang semakin terjebak tanpa jalan keluar, di tengah kondisi Afghanistan yang semakin tidak aman.

Harapan yang Tertunda

Lamia Afghan Foundation, sebuah organisasi bantuan kemanusiaan, menyatakan bahwa dukungan terhadap warga Afghanistan tak cukup hanya berupa visa. Dibutuhkan sistem dan komitmen nyata untuk memastikan mereka bisa bertransisi dari zona perang ke kehidupan yang layak.

“Pengecualian itu terdengar bagus, tapi kita perlu lebih dari itu. Kita butuh dukungan nyata di lapangan—tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, dan yang paling penting: rasa aman,” kata pendiri yayasan itu, John Bradley.

Sementara itu, di Afghanistan, banyak yang masih menunggu. Menunggu kabar baik, menunggu kejelasan, menunggu harapan. Bagi mereka, Amerika bukan sekadar tempat tujuan—melainkan janji perlindungan yang kini terasa begitu jauh.

Shoppe Mall