Solok – Erupsi Semeru Bukan Tempat Pemerintah dan pihak berwenang mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat setelah Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas erupsi.
Meski kondisi alam di sekitar gunung sering kali terlihat dramatis dan menarik perhatian, otoritas menegaskan bahwa lokasi terdampak erupsi bukanlah tempat wisata. Warga diminta tidak mendekati area berbahaya hanya demi foto-foto atau konten media sosial.
Larangan ini bukan tanpa alasan. Aktivitas Semeru yang fluktuatif masih berpotensi memicu awan panas guguran, hujan abu, hingga aliran lahar yang sangat membahayakan. Namun, di tengah situasi tersebut, sejumlah warga dan wisatawan lokal justru terlihat mencoba mendekati kawasan rawan untuk berswafoto.
Aktivitas Erupsi Masih Tinggi, Radius Bahaya Diperluas

Baca Juga : Pemuda di Solok Tewaskan Warga Usai Ditegur Karena Kebut-kebutan, Masyarakat Terkejut
Gunung Semeru kembali mengalami erupsi dengan lontaran abu vulkanik, material pijar, serta suara gemuruh yang terdengar dari radius beberapa kilometer. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa kondisi gunung masih berada pada level siaga dengan status yang belum stabil.
Karena itu, masyarakat diminta menjauh dari zona bahaya yang telah ditetapkan, terutama yang berjarak 5 hingga 13 kilometer dari puncak, termasuk aliran Sungai Besuk Kobokan yang menjadi jalur awan panas pada erupsi sebelumnya.
Fenomena Wisata Bencana Mulai Muncul
Belakangan, aparat mengungkap adanya fenomena “wisata bencana” di sekitar lokasi Semeru. Beberapa warga terlihat sengaja datang ke area terdampak hanya untuk mengambil foto abu vulkanik, langit gelap, atau sisa-sisa material erupsi.
Bahkan ada yang memaksa mendekat demi membuat konten video untuk media sosial. Aksi ini dianggap sangat berbahaya karena aktivitas gunung tidak dapat diprediksi dan sewaktu-waktu dapat melepaskan guguran lava atau awan panas.
Pihak berwenang mengingatkan bahwa erupsi bukan tontonan, melainkan kondisi darurat yang harus diwaspadai.
Aparat Terpaksa Menambah Personel untuk Menghalau Pengunjung
Untuk mencegah warga memasuki area terlarang, tim gabungan dari BPBD, TNI, dan Polri dikerahkan di beberapa titik jalur menuju Semeru. Aparat melakukan penyisiran dan meminta warga untuk kembali jika mendekati radius berbahaya.
Beberapa ruas jalan yang mengarah ke zona merah juga mulai dibatasi, terutama jalur yang biasa digunakan wisatawan untuk melihat pemandangan gunung dari jarak dekat.
Langkah ini diambil untuk menghindari insiden yang tidak diinginkan, seperti kejadian pada erupsi sebelumnya ketika sejumlah warga dan relawan terjebak saat awan panas turun dengan cepat.
Warga Sekitar Diminta Waspada dan Tidak Terpancing Informasi Salah
Selain pelarangan masuk, pemerintah juga menegaskan pentingnya kewaspadaan warga sekitar lereng Semeru. Mereka diminta tidak terpancing hoaks atau informasi yang belum diverifikasi, khususnya terkait penurunan aktivitas gunung.
PVMBG menjelaskan bahwa meskipun erupsi tampak kecil atau jarang, potensi bahaya tetap ada, terutama awan panas yang bisa meluncur tanpa tanda jelas. Situasi seperti ini tidak boleh dianggap aman hanya karena visual tampak tenang.
Keselamatan Jadi Prioritas: Fokus pada Evakuasi dan Mitigasi
Saat ini, pemerintah daerah bersama relawan fokus pada langkah-langkah evakuasi, pemantauan titik rawan, serta penyediaan tempat pengungsian bagi warga yang tinggal di kawasan terdampak. Mereka mengutamakan keselamatan warga dan memastikan akses logistik tetap berjalan lancar.
Kedatangan warga dari luar hanya akan memperkeruh situasi, menghambat operasi, serta meningkatkan risiko korban jika terjadi erupsi mendadak.
Peringatan Keras untuk Para Pemburu Konten
Pemerintah memberikan imbauan tegas kepada influencer, fotografer, maupun pembuat konten yang berniat memanfaatkan fenomena erupsi: tinggalkan niat tersebut. Upaya pembuatan konten di tengah bencana bukan hanya berbahaya bagi diri sendiri, tetapi juga berpotensi menyulitkan tim penyelamat jika terjadi insiden.
“Saat bencana terjadi, yang harus diperhatikan adalah keselamatan. Bukan foto, bukan konten,” demikian pesan otoritas kebencanaan.
Penutup: Jangan Jadikan Bencana sebagai Hiburan
Erupsi Semeru adalah peristiwa alam yang membutuhkan kewaspadaan tinggi. Masyarakat diharapkan memahami bahwa bencana bukan objek wisata. Mengambil foto di area berbahaya hanya demi unggahan media sosial dapat berujung fatal.
Pemerintah mengajak semua pihak untuk menghormati aturan, mengikuti arahan petugas, dan mengutamakan keselamatan bersama. Semeru masih aktif, dan kesiapsiagaan adalah hal yang paling penting saat ini.






