Solok – Asep dan Pipin Di kaki Gunung Ciremai yang sejuk dan hijau, sebuah kisah inspiratif tumbuh dari Desa Wisata Cibuntu, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Dua warga desa, Asep dan Pipin, menjadi contoh nyata bagaimana pemberdayaan masyarakat bisa mengubah kehidupan sekaligus menghidupkan roda pariwisata lokal.
Keindahan alamnya berpadu dengan kearifan lokal yang masih terjaga. Namun di balik keindahan itu, ada kerja keras banyak tangan yang berusaha menjaga dan mengembangkannya — termasuk Asep dan Pipin, dua sosok yang kini menjadi motor penggerak kegiatan wisata di desa mereka.

Baca Juga : Geger Dunia Percintaan di Bangkalan gegara ‘Operasi Senyap’ Mahasiswa UTM
Awalnya, Asep hanyalah seorang petani biasa yang kesehariannya dihabiskan di sawah. Sementara Pipin merupakan ibu rumah tangga yang gemar membuat olahan tradisional seperti opak dan peuyeum.
Segalanya berubah ketika program pemberdayaan masyarakat desa wisata diluncurkan oleh pemerintah daerah Kuningan beberapa tahun lalu. Melalui pelatihan yang digelar oleh Dinas Pariwisata dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), Asep dan Pipin mulai belajar banyak hal — mulai dari pelayanan wisata, pengelolaan homestay, hingga pemasaran digital.
Dengan senyum ramah dan gaya bicaranya yang santai, ia mengantarkan wisatawan berkeliling situs-situs sejarah seperti Batu Dakon dan Air Terjun Cibuntu. “Dulu saya tidak pernah berbicara di depan orang asing. Sekarang malah sering memimpin rombongan wisatawan,” katanya sambil tertawa bangga.
Sementara itu, Pipin justru menemukan jalannya di bidang kuliner dan ekonomi kreatif. Ia bergabung dalam kelompok ibu-ibu pengrajin yang memproduksi makanan khas dan suvenir dari bahan alami. “Kami buat keripik singkong, opak, dan juga sabun herbal dari bahan sekitar. Hasilnya lumayan, bisa bantu ekonomi keluarga,” ujarnya.
Usaha kecil mereka kini berkembang pesat berkat dukungan penuh dari pemerintah desa dan komunitas wisata. Produk olahan Pipin bahkan menjadi oleh-oleh favorit para wisatawan yang berkunjung ke Cibuntu.
Selain pemberdayaan ekonomi, Asep dan Pipin juga aktif dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan desa. Mereka menjadi bagian dari tim sadar lingkungan yang rutin melakukan kegiatan bersih-bersih sungai, penanaman pohon, dan pengelolaan sampah organik. “Wisata itu bukan hanya soal indahnya tempat, tapi juga bagaimana kita merawat alamnya,” tutur Asep.
Keberhasilan Asep dan Pipin menjadi bukti nyata bahwa desa wisata tidak hanya bicara tentang potensi alam, tetapi juga kekuatan manusia di dalamnya. Pemberdayaan warga membuat Desa Cibuntu tidak sekadar tempat berkunjung, melainkan ruang hidup yang tumbuh bersama.
Kepala Desa Cibuntu, Sulaeman, mengungkapkan kebanggaannya atas peran warga seperti Asep dan Pipin. “Kami bangga karena masyarakat tidak hanya jadi penonton, tapi pelaku utama. Inilah semangat yang membuat Cibuntu menjadi desa wisata yang berkelanjutan,” ujarnya.
Kini, Asep dan Pipin menjadi inspirasi bagi warga desa lain di Kuningan.
Desa Wisata Cibuntu sendiri terus berkembang dengan konsep wisata berbasis masyarakat. Selain wisata alam dan sejarah, desa ini juga mengembangkan ekowisata dan pengalaman budaya, seperti belajar menanam padi, membuat batik alami, hingga menikmati musik tradisional.
Dari tangan-tangan sederhana seperti Asep dan Pipin, Cibuntu kini menjadi bukti bahwa desa bisa berdikari dan berdaya. Pariwisata bukan hanya soal menarik wisatawan, tapi juga tentang menguatkan warga desa agar tetap mencintai dan menjaga tanah kelahirannya.
Dengan semangat gotong royong dan inovasi lokal, Desa Cibuntu terus menapaki jalannya menjadi ikon wisata pedesaan di Indonesia






