Solok – 1 Kecematan di Sulut Di Sulawesi Utara, muncul penolakan dari sejumlah kecamatan terhadap penggunaan food tray (ompreng) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyusul berkembangnya isu kandungan minyak babi dalam produk tersebut.
Isu pertama kali mencuat melalui laporan investigatif dari Indonesia Business Post (IBP), yang menyatakan ada dugaan penggunaan minyak babi (lard) dalam proses produksi food tray impor dari Chaoshan, China.

Baca Juga : Pemkab Solok upayakan percepatan pembangunan infrastruktur
Sebagai respons, Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan bahwa BGN tidak melakukan pengadaan langsung food tray—melainkan mitra MBG—dan bahwa pelumas seperti minyak hanya digunakan pada mesin, bukan di tray itu sendiri.
Lebih lanjut, BGN menyatakan siap untuk mengganti seluruh food tray MBG jika terbukti mengandung minyak babi.
Pemerintah, lewat Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), menganggap hingga kini belum ada temuan bukti konkret bahwa tray MBG mengandung minyak babi, namun membuka opsi pengujian lebih lanjut lewat BPOM
BPOM RI kemudian merespons dengan menyiapkan pengujian formal—menggunakan swab dan tes DNA—untuk mendeteksi kemungkinan kandungan babi dalam tray.
Organisasi Masyarakat seperti MUI pun menyoroti pentingnya jaminan kehalalan dalam pelaksanaan program MBG agar tak terjadi keteledoran oleh pihak penyelenggara.
Menanggapi keresahan masyarakat, beberapa kecamatan di Sulut menyatakan keberatan menerima MBG jika tray-nya tak jelas status kehalalan dan keamanannya.
Penolakan ini merupakan bentuk kecermatan lokal untuk menjaga sensitivitas agama serta kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah.
Di wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim, penggunaan tray dengan indikasi babi—meski belum teruji—menimbulkan kekhawatiran serius.
ini Selain keamanan pangan, isu ini juga menyoroti keadilan ekonomi: apakah MBG memberdayakan produsen lokal atau malah memberi peluang bagi produk impor yang meragukan.Penduduk setempat berharap adanya transparansi dari BGN dan kementerian terkait
Di tengah isu tray, masyarakat juga berharap kualitas makanan MBG tetap terjaga gizi dan higienis, bukan sekadar menyelesaikan permasalahan kemasan.
